Opini Filosofi Permainan Catur di Kehidupan Masyarakat Jawa

Oleh  Ki Loerah Semar

Globalmaluku.com, Jawa Timur l Catur adalah suatu permainan yang sudah mendunia, baik tua muda, pria wanita banyak yang bisa bermain catur. Tetapi tahukah anda bahwa catur menurut orang jawa memiliki filosofi tersendiri.

CATUR bisa berarti 4 (empat) tetapi bisa juga berarti berbicara.

Catur berarti berbicara artinya untuk menjadi manusia yang berguna dan disenangi oleh orang lain maka manusia haruslah dalam berbicara memperhatikan 4 (empat) hal :

– Lemah lembut

Sopan Santun

– Benar dan jelas

– Manfaat

PAPAN CATUR : 1 papan catur memiliki 2 (dua) warna, 4 (empat) sudut, 8 (delapan) kotak, 64 (enam puluh empat) kotak.

1 (satu) papan catur artinya Allah dan juga bisa berarti badan wadag manusia artinya bahwa sebagai manusia kita haruslah selalu ingat akan Allah SWT yang Maha Segalanya dan selalu mejalankan perintah-NYA serta menjauhi semua larangan-NYA.

2 (dua) warna artinya bahwa didunia ini isinya 2 hal yaitu baik buruk,  pria wanita, siang malam, dan lain sebagainya, ini bisa bearti bahwa didunia ini tidak ada yang sempurna dan abadi kecuali hanya Allah SWT semata yang Maha Sempurna.

4 (empat) sudut artinya bahwa manusia itu memiliki 4 (empat) sifat yaitu : Aluamah, Amarah, Supiyah, dan Mutmainah.

Aluamah / Serakah : Manusia itu pada dasarnya memiliki rasa serakah dan aluamah. Maka dari itu, apabila nafsu tersebut tidak dikendalikan manusia bisa merasa ingin hidup makmur sampai tujuh turunan.

Amarah : Bila manusia hanya mengutamakan nafsu amarah saja, tentu akan selalu merasa ingin menang sendiri dan selalu ribut/ bertengkar dan akhirnya akan kehilangan kesabaran. Oleh karena itu, sabar adalah alat untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT.

Supiyah / Keindahan : Manusia itu umumnya senang dengan hal hal yang bersifat keindahan misalnya wanita (asmara). Maka dari itu manusia yang terbenam dalam nafsu asmara/ berahi diibaratkan bisa membakar dunia.

Mutmainah / Keutamaan : Walaupun nafsu ini merupakan keutamaan atau kebajikan, namun bila melebihi batas, tentu saja tetap tidak baik. Contohnya: memberi uang kepada orang yang kekurangan itu bagus, namun apabila memberikan semua uangnya sehingga kita sendiri menjadi kekurangan, jelas itu bukan hal yang baik.

8 (delapan) kotak artinya 8 (delapan) penjuru mata angin Utara, Timur, Selatan, Barat, Tenggara, Timur Laut, Barat Laut, Barat Daya.

64 (enam puluh empat) artinya 6+4=10 artinya lubang kesepuluh atau kematian, artinya manusia akan selalu meiliki kesempatan sebelum ajal menjemput dan gunakanlah kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

BUAH CATUR :

PION artinya ketoke sePI nanging Ono artinya walaupun kelihatannya tidak ada tetapi sebenarnya ada, ini memiliki arti bahwa jangan pernah meremehan hal-hal yang kelihatannya sepele karena jika kita meremehkannya maka bisa juga akan berakibat fatal bagi diri kita.

BENTENG artinya BEN enTENG artinya supaya cobaan hidup ini terasa ringan atau tidak menjadi beban fikiran.

JARAN artinya diJARno sak paRAN-paran artinya bebaskan fikiran atau jangan pernah membebani hati dan fikiran dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

PELUNCUR artinya lurcurno atau keluarkan, artinya jika kita punya uneg-uneg maka jangan dipendam dalam hati tapi ungkapkan agar tidak sampai stres.

STER artinya stir artinya kendalikan pikiran, hati, ucapan, tingkah laku dan perbuatan kita agar hidup ini menjadi bermanfaat bagi diri kita maupun orang lain.

ROJO artinya adalah manusia yang utama artinya berusahalah agar bisa menjadi manusia yang utama disisi Allah SWT yaitu manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, orang lain, bangsa, negara dan agama dan pertahakan hal tersebut agar tetap menjadi manusia yang utama dengan selalu memanfaatkan setiap kesempatan yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya sebelum ajal menjemput.

 

KESIMPULANNYA adalah bahwa permainan catur memiliki pesan moral agar kita sebagai manusia bisa menjadi manusia yang utama yang bertaqwa kepada Allah SWT dengan menanamkan nilai-nilai luhur dalam kehidupannya dengan jalan pengendalian diri dan menata diri (NOTO SALIRO) yang dilandasi dengan beragama,  berilmu dan berbudaya.(GM04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: