Pelayanan JKN di RSUD Masohi Disesalkan Wakil Rakyat

Masohi, GLOBALMALUKU.COM – Anggota DPRD Malteng Ahmad Ajland Alwi,SH.,MH menyesalkan mekanisme pelayanan bagi pasien dengan status Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Pada RSUD Masohi.

Terkhusus, menyangkut kebutuhan obat-obatan bagi pasien.
Kepada GLOBALMALUKU.COM, kemarin, Adjland menumpahkan kekesalannya paska mendengar langsung keluhan salah satu pasien bersalin di RSUD Masohi. Pasien dimaksud berstatus peserta BPJS Kesehatan.
“Apotik RSUD Masohi seperti toko obat saja. Masak, pasien JKN masih harus membeli obat diluar. Dengan alasan obat yang diresepkan dokter tidak tersedia di Apotik RSUD Masohi,” ungkapnya.
Kekesalan Ajland, bukan pada masalah itu saja, namun terkait juga dengan implikasi anggaran yang harus ditanggung pasien.
“Sudah beli diluar, penggantian biaya pembelanjaan obat dimaksud tidak diberikan oleh pihak Rumah Sakit dengan dalil bahwa
jenis Obat yang tidak terdapat Dalam Formularium Nasional (Fornas), ”
Alwi yang berlatar belakang praktisi hukum ini, mengaku sangat kesal. Pasalnya, menurut dia, Permenkes no 28 tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional menjelaskan Bahwa penggunaan Obat diluar formularium nasional tidak boleh dibebankan untuk peserta JKN.
“Kenyataan yang terjadi tidak demikian,” ujarnya.
Terhadap kenyataan ini, Adjan meminta direktur RSUD Masohi, Ursula Surjastuty untuk melakukan pembenahan di internal.
Dia berharap, kondisi yang mungkin saja terjadi karena ketidak pahaman petugas pelayanan kesehatan di RSUD Masohi tidak berimbas pada managemen secara keseluruhan.
“Direktur RSUD harus mengevaluasi seluruh jajarannya. Jangan sampai masyarakat dirugikan,” pesannya.

Sementara itu, Direktur RSUD Masohi, Ursula Surjastuty yang diminta keterangannya membantah kalau obat-obatan di rumah sakit tidak lengkap.
“Ada kasus dimana resep obat yang diberikan oleh dokter tidak tersedia di Rumah sakit. Ini berhubungan dengan hasil diagnosa dokter terhadap penyakit yang diderita pasien. Tapi itu tidak berarti bahwa obat untuk jenis penyakit dimaksud tidak tersedia di rumah sakit. Obatnya ada, tapi daya penyebuhannya berbeda,” jelasnya.
Terhadap kasus seperti ini, dikatakan, pihak keluarga pasien bisa mengajukan keberatan dan meminta penggantian dengan obat lainnya yang tersedia di apotik rumah sakit. Meski pada prinsipnya, obat diluar resep dokter, daya penyembuhannya berbeda,” tambahnya.
Lebih jauh dijelaskan, pembelian obat diluar formularium, tidak ada penggantian biaya. Untuk itu, Surjastuty menghimbau masyarakat untuk bertindak kooperatif menghadapi kondisi demikian.
“Petugas rumah sakit juga sudah kita ingatkan untuk memberikan penjelasan detil kepada pihak keluarga pasien saat hendak menebus obat. Nah, pihak keluarga pasien juga jangan canggung untuk meminta penggantian terhadap resep obat yang tidak tersedia di apotik rumah sakit agar digantikan dengan resep obat lain,” pesannya.

(MYX)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: